Ilmu Fiqih

Fikih menurut bahasa berarti tahu dan paham. Menurut istilah berarti ilmu syariat. Para mendefinisikan fikih dengan ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang diperoleh dari dalil-dalil yang tafshil. Dan ilmu fikih adalah sekelompok hukum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil terperinci.

Karakteristik ilmu fikih dapat dibedakan antara syariah dan hukum Islam atau fikih. Perbedaan tersebut dilihat dari dasar atau dalil yang digunakannya. Syariat didasarkan pada nash Alquran atau sunnah secara langsung. Hukum Islam didasarkan pada dalil-dalil yang dibangun oleh para ulama atau ijtihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat dalam syariat. Dengan demikian jika syariat bersifat permanent, kekal, dan abadi, maka ilmu fikih atau hukum Islam bersifat temporer dan dapat berubah. Namun dalam praktenya antara syariat dan fikih sulit dibedakan. Ketika kitamengkaji suatu masalah misalnya kita pergunakan nash Alquran dan sunah,tetapi bersamaan dengan itu kita juga menggunakan penalaran. Read more…

Categories: Islam Tag:

Ajaran Murji’ah

Kata Murji’ah berasal dari kata bahasa Arab arja’a, yarji’u, yang berarti menunda atau menangguhkan. Salah satu aliran teologi Islam yang muncul pada abad pertama Hijriyah. Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Syahristani menyebutkan dalam bukunya Al-Milal wa an-Nihal (buku tentang perbandingan agama serta sekte-sekte keagamaan dan filsafat) bahwa orang pertama yang membawa paham Murji’ah adalah Gailan ad-Dimasyqi.

Aliran ini disebut Murji’ah karena dalam prinsipnya mereka menunda penyelesaian persoalan konflik politik antara Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Khawarij ke hari perhitungan di akhirat nanti. Karena itu mereka tidak ingin mengeluarkan pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang dianggap kafir diantara ketiga golongan yang tengah bertikai tersebut. Menurut pendapat lain, mereka disebut Murji’ah karena mereka menyatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Adapun dosa besar orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat. Maksudnya, kelak di akhirat baru ditentukan hukuman baginya. Read more…

Categories: Islam Tag:

Nasuh Al-Matraki: Cendekiawan Besar dari Turki Usmani

Beragam ilmu pengetahuan yang dikuasainya telah membuat Nasuh Al-Matraki menjadi terpandang di era Kekhalifahan Usmani Turki. Ia pun menjadi salah seorang cendekiawan besar pada abad XVI. Sejarah peradaban Islam mencatat sumbangan penting yang diberikannya bagi pengembangan matematika, sejarah, geografi, kartografi, teknik serta kaligrafi.

Dia bukanlah ilmuwan biasa. Matraki juga dikenal sebagai seorang ksatria yang jago mengatur taktik perang. Tak heran jika, Sultan Sulaiman Al-Qanuni Khalifah Turki Usmani yang sangat disegani di seantero dunia pada abad XVI   begitu terkesan dengan kehebatan ilmuwan yang satu ini.
Berkat kehebatannya,  Sultan Sulaiman menganugerahi Matraki gelar ustad dan rais. Ilmuwan dan ksatria yang dikenal lihai memainkan beragam senjata itu, pamornya kian berkibar, setelah berhasil menciptakan sebuah permainan strategi perang yang diberi nama Matrak. Atas keberhasilannya itu, Matraki juga dikenal sebagai Master of Knight. Read more…

Categories: Tokoh Tag:

Cerrahiye-i Ilhaniye, Buku Bedah Anak Warisan Islam

Pada abad ke-10 M, dunia kedokteran Islam memiliki seorang dokter bedah terkemuka bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi.  Dokter bedah kelahiran 936 M di kota Al-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol itu pun dikenal sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern.

Lima abad kemudian, peradaban Islam yang saat itu dikuasai Kekhalifahan Turki Usmani juga memiliki seorang dokter bedah terkemua bernama Serafeddin Sabuncuoglu. Ia sangat dikenal dengan buku kedokteran yang ditulisnya berjudul Cerrahiye-i Ilhaniye. Inilah buku ilmu bedah anak pertama di dunia yang dilengkapi dengan ilustrasi. Read more…

Categories: Tokoh Tag:

Ahmed Zewail, Bapak Femtokimia

Berkat jasanya ilmu kimia memiliki cabang baru yang disebut Femtokimia. Atas jasanya itu,  Zewail didapuk sebagai Bapak Femtokimia.

Para sejarawan sains Barat mengakui bahwa ilmu kimia merupakan warisan peradaban Islam pada era kekhalifahan.  Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith, mengatakan, para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahan telah meletakkan fondasi ilmu kimia modern.

”Kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam,” papar Durant. Tak heran jika  kimiawan Muslim di era keemasan bernama Jabir Ibnu Hayyan ditabalkan sebagai ”Bapak Kimia Modern”. Kontribusi kimiawan Muslim tak hanya diakui di era keemasan, pada zaman globalisasi pun  kimiawan Muslim masih berprestasi.
Salah seorang penerus jejak Jabir Ibnu Hayyan di era modern itu bernama Ahmed Hassan Zewail atau Ahmed Zewail. Ia  merupakan ahli kimia Muslim  yang pernah meraih hadiah Nobel Kimia pada 1999. Penghargaan bergengsi itu diraihnya setelah berhasil  spektroskopi femto laser. Read more…

Categories: Tokoh Tag: